Photo

Rena terpaku.

Baru saja, ia berniat untuk membantu tugas Jaemin. Tapi, pandangannya terkunci pada sebuah folder di laptop sang crush.

Rena ragu sejenak. Pasalnya, membuka privasi seseorang bukanlah hal yang biasa dia lakukan. Kecuali hal itu berkaitan dengan dirinya.

“Rena’s Cutie.” Hatinya terasa tidak karuan ketika membaca nama folder itu.

Apa ini? Sejak kapan Jaemin… perasaan gue sama dia gak sedeket itu, bahkan ngobrol aja jarang.

Tapi ini apaan?

Batinnya berperang. Ia tak sepenuhnya mengerti. Bagaimana bisa namanya tercantum di sana.

Awalnya, Rena berusaha positif. Mungkin Jaemin juga punya a little crush for her.

Sayangnya semua rasa itu kalut ketika tangannya tak sengaja membukanya—folder Rena.

Seketika, tubuhnya merinding.

Direktori itu penuh dengan foto! Foto-foto dirinya yang entah bagaimana bisa muncul di sana.

Sepuluh, dua puluh… ratusan foto!

Rena ingin berteriak.

Sayangnya, ia masih memiliki harga diri untuk tidak bersikap impulsif dan berakhir menjadi bahan tontonan semua pengunjung.

Kepala terus menggeleng; merasa tidak percaya. Terlebih lagi, ketika ia mendapati foto lawas dirinya saat awal tahun 2021.

Bukan karena fotonya jelek. Melainkan, ia saja baru mengenal Jaemin saat pertengahan tahun, dan itu pun karena mereka masuk sekolah yang sama.

Sebelumnya, Rena tidak pernah ingat kalau ia pernah bertemu dengan Jaemin.

Kalau begitu, Jaemin…

“Gila!” gumamnya.

Dan semakin gila ketika ia menemukan folder lain yang bertuliskan “Cutie’s voice”.

Seketika ia teringat percakapan beberapa jam yang lalu.

Rena tak perlu membuka folder untuk sekedar mengetahui suaranya telah direkam dan diarsipkan di dalam laptop sang crush.

Dari sekian banyak skenario yang berputar di pikiran. Hanya ada tiga alasan yang logis.

Jaemin dan dia sering bertemu sebelumnya, tapi ia melupakannya karena alasan tertentu.

Jaemin memiliki kenalan yang memberinya foto-foto dan rekaman suara miliknya.

Atau,

Jaemin terobsesi dan berakhir menjadi stalker gila.

Persetan! Rena tidak peduli lagi. Apakah itu opsi pertama atau terakhir, menurutnya semua ini sudah diluar kendali.

Dengan cepat ia menghapus segala jejak aktivitasnya. Mengambil tas miliknya dan mulai mengemasi barang bawaan.

Netranya mengeksaminasi keseluruhan cafe, memastikan teman sekelompoknya belum selesai dari aksi meneleponnya.

“Gue harus pergi dari sini.”

Namun, nasib sialnya belum berakhir. Secara tidak sengaja, ransel milik Jaemin terantuk dan terjatuh.

Sial! Padahal dia harus cepat-cepat kabur.

Untuk mencegah kecurigaan, Rena memutuskan untuk membereskannya. Tapi…

Lagi-lagi, bulu kuduknya menegang. Wajah Rena mulai kehilangan warna. Ketakutannya ternyata terjawab.

Kertas-kertas yang baru diprint berserakan. Kumpulan garis membentuk satu sosok yang sangat dikenalinya.

Itu cetakan foto dirinya!

Sorot matanya kosong. Tangannya bergetar ketika berusaha mengambil sepotong polaroid.

Memikirkan bahwa seluruh gambar disini diabadikan oleh seseorang yang kastanya adalah stranger—hanya teman sekelas dengan crush—membuatnya bergidik.

Kalau saja, foto ini dicetak oleh sahabat atau keluarga, mungkin Rena tidak akan setakut ini.

Di mobil, di kamar, di sekolah, di tempat umum, bahkan foto terakhir yang diambil tepat kemaren seusai dia menonton film bersama Nadira.

Rena celingukan. Otaknya buntu.

Jadi selama ini, hidupnya selalu diikuti oleh lelaki ini. Lelaki tak tau diri. Seorang penguntit gila.

“Pergi!” celetuknya cepat.

Satu-satunya jalan keluar yang dapat ia lakukan. Sebelum Jaemin datang dan memergokinya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai